Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dengan singkatan PMII merupakan organisasi gerakan dan kaderisasi yang berlandaskan islam ahlussunah waljamaah. Berdiri sejak tanggal 17 April 1960 di Surabaya dan hingga lebih dari setengah abad kini PMII terus eksis untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

  • Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

    PMII merupakan organisasi gerakan dan kaderisasi yang berlandaskan islam ahlussunah waljamaah. Berdiri sejak tanggal 17 April 1960 di Surabaya dan hingga lebih dari setengah abad kini PMII terus eksis untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

  • Dzikir Fikir Amal Sholeh

    Tri Motto PMII, Tri Motto ini harus selalu diasah dan diimplementasikan kedalam diri kita secara personal dan pada organisasi agar roda pergerakan berjalan sesuai dengan amanah pendiri PMII.

  • Sistem Informasi Kaderisasi PMII Majalengka

    Media terkini yang mampu menjangkau informasi dimanapun kapanpun untuk dimudahkan dan percepat. mencakup informasi PMII Majalengka dan nusantara

  • PMII Majalengka

    PMII Kabupaten Majalengka yang secara defakto dideklarasikan pada tanggal 25 Februari 2005 dengan Founding Father PMII Majalengka adalah Sahabat Ruli Rusli, S.E, Riki Hermawan, M. Fajar Shidiq CH, S.Pd.I, dan Ade Barjzi Zaenudin,S.E, M.Si.

  • Pengurus Cabang PMII Majalengka

    Pengurus Cabang PMII Majalengka adalah struktural tertinggi dilingkup kabupaten atau kota

Aswaja dan Analisis Peta Gerakan Islam

Oleh: Rif’atuz Zuhro*

Ketika berbicara tentang peta pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia, itu tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islammy di negara ini. Marshall G.S. Hodgson membagi sejarah peradaban Islam menjadi tiga periode: periode klasik antara  VII dan X AD, pertengahan periode antara X-Century hingga XV-AD dan  XVI dan XX AD. 

Sepanjang jalan, Hodgson yang berkelanjutan adalah masa ketika komunitas Muslim harus mengadopsi dalam kegelapan. Setelah komunitas Muslim terbagi menjadi dunia internasional di era klasik dengan dominasi dan pemerintahan, ia harus menghadapi berbagai masalah yang menyebabkan set-off. Keadaan masyarakat Islam saat ini belum berkembang lebih  dari keadaan masyarakat Barat di era klasik. Setelah masa Songo Guardian, seorang sarjana terkenal dari para sarjana Nusantara, Nurdin al-Ranilli, Abdul Roof Al-Sinsiri, Muhammad Yusuf Al-Makassari, Kia Agen Hasan Beali, Syayid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid, Sayyid Suli. Setelah itu, umat Islam diikuti oleh para sarjana Halamaman (Al Jowi) Makkah, Sheikh Muhammad Nawawi Al Banthani (Banten), Sheikh Ahmad Katib al Minangkabau (Minlankabau), yang memberikan orang -orang di Indonesia di Indonesia di Indonesia kepada muslim, muslima, muslim, tidak akan diketahui oleh muslim, muslim, musuh, tidak akan diketahui oleh muslim, musuh, tidak akan diketahui oleh muslim, musuh, tidak akan diketahui oleh muslim, musuh, tidak akan diproduksi, musuh. Ahmad Dhaan dan Kh Muhammad Hashim Asi (Java) Abad ke -19 M. 

Pola Muslim Indonesia  dipengaruhi oleh pemerintah otomatis pemerintah Turki sejak awal, yang dipimpin oleh Sultan Ahmad Tsani, yang bekerja  dengan Ibn Sani, Muhammad bin Abdul Wahab dan Muhammad Abdul Wahab dan Muhammad Abdu. Mereka kemudian dikirim oleh Sultan Sheikh Maulana Malik Ibrahim, Sheikh Samarkand, Sheikh Jumat Kubro dan Shaikh Jafar Shadik. Namun, ketika para cendekiawan Utusan dari pemerintah Otman mencapai Jawa, pemerintah Turki dirusak oleh Inggris dan Prancis bekerja sama dengan Ibn Sa dan Prancis. Ada seorang guru  bernama Ibn Sa dan Muhammad bin Abdul Wahab. 

Menurut dunia Arab, proses polarisasi dilakukan oleh Muhammad Ibn Abdul Wahab dengan gerakan pembersihan dan reformasi yang dilakukan dalam memahami kerja sama Wahabiya dan pekerjaan perintisnya dengan penguasa Arab baru Ibn SA. Gerakan ini tidak hanya mempengaruhi aspek ibadah dan iman, tetapi juga aspek -aspeknya. Rumahnya telah diperkuat sejak pemahaman Wahabi. Awalnya homogen, Muslim Indonesia telah terpolarisasi oleh lebih banyak varian dengan memahami Wahabi. 

Setelah Haramaine Ibn Sa dan penguasa baru dunia Arab, Ibn Abdul Wahab kemudian menjatuhkan Gerakan Pembersihan dan Reformasi Islam. Ada dua misi utama yang diinginkan. Itu menggantikan satu -satunya Kirifa Islam di  dunia Islam, dan menggantikan Usaniyakirifa Turki, dan digantikan oleh gerakan muda Turki di Kemalattaturk, menjadikan  Wahabi satu -satunya Madhuhab di  dunia. 

Memahami Wahaviya tidak dapat dikendalikan untuk memasuki Indonesia. Masalah pohon yang mewakili sumber tegangan tidak penting karena nilai pengajaran Islam, tetapi juga menunjukkan kekhalifahan Taklid, ritual kematian, Taril dan Tarkin, Ushari dan lainnya. Fenomena ini adalah  salah satu alasan atau motivasi bahwa Nahdlatul Ulama (NU) harus dipasang pada tahun 1926. 

Setelah fondasi NU, tidak ada ketegangan di antara Muslim Indonesia, tetapi mereka dialihkan dari bidang budaya ke bidang politik. Nu, yang dijelaskan oleh Djan Effendi (2010), telah memainkan peran penting dalam komunitas Santori, khususnya di komunitas pedesaan Santori. Dia menunjukkan kemampuannya untuk mengasah kesadaran kolektif Muslim Indonesia, khususnya di bidang -bidang seperti agama, masalah sosial, kebangsaan dan pendidikan. 

Ketika datang ke pergerakan dan organisasi massa (organisasi massa), kami tahu beberapa segmen termasuk: Sarekat Dagang Islam-Sdi (1905). Jamiatul Khoiriyah (1905); Muhammadya (1912); Mengenai format partai politik, termasuk PSI (1923). PERI (TT); 

Saat ini, partai -partai Islam terfragmentasi oleh berbagai partai politik, termasuk PKB, PPP, PAN, PK, PBB, dan banyak lagi. Ada banyak organisasi pemuda dan mahasiswa di kalangan pemuda dan siswa, termasuk PMII, HMI, IPNU/IPPNU, Muhammadiyah Youth, IM, PII, dan banyak lagi. Ada beberapa kelompok kepentingan (kelompok kepentingan) termasuk FPI, HTI, KISDI, Lasykar Jihad, Jat, MMI, LDII, Jil, Jim, dan banyak lagi. 

Karena itu, jika Anda dipertimbangkan dari sudut pandang politik, orang -orang NU tidak selalu ditangkap di partai politik tertentu. Tetapi di ladang Aqeedah, Muamalah dan Harakah, orang -orang Nu memiliki Manhaj mereka sendiri, yaitu Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah. Ibukota ini menyimpang dari konsep WASATHIA, dan Nabi Muhammad mengajarkan bahwa yang terbaik adalah dari Tengah atau 143 tahun.

Share:

MANAJEMEN AKSI

I. PENGERTIAN MANAJEMEN AKSI

 

Pengelolaan 

Secara umum, manajemen memahami potensi atau manajer konten dalam  wadah atau komunitas. Manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui perencanaan, organisasi, bimbingan dan kontrol. Manajemen dapat digunakan dalam kehidupan pribadi dan bisnis. 

tindakan 

Kampanye ini berasal dari kata "aksi." Gerakan adalah pergerakan energi, jumlah, tempat, dan waktu dari keadaan aslinya ke kemudian. Tindakan di  dunia gerakan organisasi  dapat diterjemahkan sebagai semua pikiran dan tindakan/tindakan yang mengarah pada hasil dari tujuan perjuangan itu sendiri. 

Oleh karena itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa manajemen tindakan tetap terkoordinasi dan merupakan  cara  untuk  mencapai hasil yang diinginkan sesuai dengan perencanaan dan tujuan awal. 

Tindakan umumnya dimotivasi oleh kematian jalan usaha atau tenggat waktu untuk dialog. Namun, dalam keadaan pemerintahan yang korup,  legislator tidak dapat melakukan bagian mereka, sehingga orang dengan cepat mengambil singkatan dalam bentuk penanggulangan. Kampanye ini juga dilakukan dalam konteks pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Jadi masalah yang Anda harapkan bisa menjadi manusia salju. 

Format untuk mengirimkan upaya kepada pemerintah dan mengirimkan transfer pesan kepada publik adalah untuk mengambil tindakan besar. Karena langkah -langkah disahkan di negara -negara demokratis, lembaga -lembaga seperti universitas juga harus berfungsi sebagai nilai untuk barang dan masyarakat pemerintah. Mengapa ada cara untuk memilih? Ini karena kampanye mempengaruhi kedua belah pihak, halaman yang menyerahkan pesan kepada pihak yang diinginkan dan persepsi publik tentang masalah tersebut. Jadi aksinya masih merupakan metode terkait. 


II. Konstitusionalitas 

Hukum. TIDAK. 9 Dari tahun 1998, pendapat telah diungkapkan secara publik mengenai kemerdekaan. Beberapa hal yang penting untuk hukum ini: 

Pengajuan opini publik tidak boleh dilakukan di lokasi tertentu yang mencakup istana presiden (radius 100 m), titik ibadah (radius 150 m), fasilitas militer, dan benda -benda nasional yang penting (radius 500 m) dari pagar luar. 

Mengenakan benda (tajam, molotou, dll.) Yang membahayakan keamanan publik dilarang 

Kirim laporan atau pemberitahuan tertulis ke polisi setempat 

Pemberitahuan tersebut mencakup kampanye, waktu dan tujuan dan tujuan acara, rute, jumlah massa, dan tindakan yang bertanggung jawab atas Undang -Undang ini 100 Massa 1. 


III.  BENTUK DAN SUSUNAN MASSA AKSI

Bentuk Aksi :

 Demonstrasi, serangan gantungan, tindakan damai, sejarah mimbar gratis, aksi teater, dan banyak lagi. 


IV. Tahap Aksi 

Saat menjalankan kampanye, ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan. Perangkat yang perlu Anda persiapkan dan langkah -langkah yang perlu Anda serahkan. Di atas segalanya, ada beberapa fase yang harus diadopsi dalam kampanye. 

A. Sebelum tindakan 

1. Persiapan dan kedewasaan 

2. Mengatur tim aksi 

Instrumen tindakan adalah bagian dari tindakan peserta massa tindakan. Perangkat massa tindakan disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Biasanya, Anda akan memerlukan perangkat  berikut: 

Koordinator lapangan. 

Korlap diminta untuk memimpin tindakan di tempat, hak untuk memberikan arahan kepada peserta/orang populer. Keputusan ini ditentukan oleh keputusan Corlap untuk memulai atau menghilangkan massa tindakan. 

pembicara 

Seorang pembicara adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk menjadi agitator yang mengirimkan persyaratan untuk tindakan populer dalam bahasa bicara dan membakar semangat massa. Hama 

Peralatan tindakan yang bertanggung jawab atas penyebaran seluas mungkin sehubungan dengan kegiatan pemangku kepentingan, terutama untuk pers. 

Perunding 

Negosiator akan berfungsi sesuai dengan tujuan dan tujuan kampanye. Misalnya, pekerjaan bangunan DPR/DPRD  tidak dapat mencapai target mereka, tetapi dicegah oleh pasukan keamanan, sehingga komandan dan negosiator bernegosiasi untuk memastikan bahwa mereka dapat mencapai target tindakan mereka. Oleh karena itu, negosiator membutuhkan keterampilan diploma. 

Kurier (mengikat komunikasi antara massa efek dan tindakan lainnya) 

Ekspresi laba (memberikan perlindungan hukum dalam kasus kekacauan TJD) 

Dinamika Wilayah/Keamanan/Sweeker/Field/Intelijen 

Logistik dan penyelamatan medis. dokumen 

Tim kreatif 

Buat siaran pers (dengan berita dan persyaratan dari masalah yang  dibahas) 

Mengumpulkan populasi (diperkirakan) 

Silakan hubungi media 

Persiapan perangkat/integritas tindakan 

(Spanduk, bendera, siaran pers, perangkat dokumen, poster, speaker seperti TOA dan mobil sistem suara, dan identitas dan gangguan teater peserta tindakan.) 

Skenario dan  peran pemisahan 

Silakan hubungi polisi untuk lisensi 


B. aksi 

Pada tahap ini, peran peralatan aksi digunakan sesuai dengan setiap tugas. Perubahan dalam situasi  lapangan sangat cepat, sehingga komunikasi dan koordinasi antara alat tindakan tidak terganggu. 

Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan saat menerapkan suatu tindakan: 

Bagikan pesan tertulis seperti brosur dan selebaran. 

Lanjutkan berbicara di sepanjang jalan, dan  tujuan akhir adalah bagian dari pidato yang menyerahkan pesan aksi kepada komunitas yang lebih luas. 

Menyanyikan teriakan. Mendominasi/mengendalikan atmosfer/situasi (situasi dan kondisi) sebagai dorongan untuk tindakan. 

Audiensi untuk pihak yang dimaksudkan yang dilakukan oleh alat tindakan yang  ditunjuk, negosiator, dan mereka yang unggul di antara hadirin. 

siaran pers. Ini biasanya terjadi di akhir kampanye dan diharapkan akan dicakup oleh media, memungkinkan pesan diteruskan ke publik. 

C. Setelah aksinya 

Partisipasi sebagai konfirmasi dari jumlah peserta dalam tindakan yang terlibat selama kampanye. 

Evaluasi untuk menemukan kisaran tingkat keberhasilan kampanye 

Rekomendasi dari hasil yang  dicapai dengan pengukuran dapat dicatat dalam input gerak berikutnya. 

Peran lembaga organisasi di lingkungan harus dibuat dengan segala cara. Pikiran tanpa latihan menciptakan mimpi, tetapi praktik tindakan tanpa pikiran hanya bisa menjadi kekejaman atau kekacauan gerakan, seperti yang dinyatakan Bancarno, bahwa itu harus menjadi massa gerakan  yang mengenali pikiran dan tindakannya (tindakan yang mengikutinya dengan sederhana). Program tempur organisasi gerakan yang dipraktikkan dalam manajemen aksi dan propaganda harus diterapkan dengan serius dan bertanggung jawab. "Tindakan tanpa teori tidak teratur, dan teori tanpa tindakan adalah omong kosong."

Share:

PENGELOLAAN OPINI DAN GERAKAN MASSA

PENGELOLAAN OPINI DAN GERAKAN MASSA

Pokok Bahasan:

1.       Pola hubungan antara opini serta isu dengan sikap dan perilaku massa

2.       Opini dan mobilisasi massa sebagai bagian dari metode perjuangan

3.       Strategi dan teknik mengelola opini dan propaganda ke basis massa

4.       Strategi dan teknik menggalang massa dan menggerakkannya untuk sebuah misi pergerakan.

A.      Pengertian

1.       Opini

Seperti ilmu sosial lainnya, definisi opini (pendapat) sulit untuk dirumuskan secara lengkap dan utuh. Ada berbagai definisi yang muncul, tergantung dari sisi mana kita melihatnya, Ilmu Komunikasi mendefinisikan opini sebagai pertukaran informasi yang membentuk sikap, menentukan isu dalam masyarakat dan dinyatakan secara terbuka. Opini sebagai komunikasi mengenai soal-soal tertentu yang jika dibawakan dalam bentuk atau caratertentu kepada orang tertentu akan membawa efek tertentu pula (Bernard Berelson).

 

2.       Opini Publik

Ilmu Psikologi mendefinisikan opini publik sebagai hasil dari sikap sekumpulan orang yang memperlihatkan reaksi yang sama terhadap rangsangan yang sama dari luar (Leonard W. Doob) Sekalipun untuk keperluan teoritik dikenal adanya tiga pendekatan diatas, dalam prakteknya opini  publik tidak bisa dipahami hanya dengan menggunakan satu pendekatan saja. Opini publik hanya terbentuk bila ada informasi yang memadai dan warga masyarakat bereaksi terhadap isu tersebut. Opini publik memiliki karakteristik sebagai berikut :

1.       dibuat berdasarkan fakta, bukan kata-kata

2.       dapat merupakan reaksi terhadap masalah tertentu, dan reaksi itu diungkapkan

3.       masalah tersebut disepakati untuk dipecahkan

4.       dapat dikombinasikan dengan kepentingan pribadi

5.       yang menjadi opini publik hanya pendapat dari mayoritas anggota masyarakat

6.       opini publik membuka kemungkinan adanya tanggapan

7.       partisipasi anggota masyarakat sebatas kepentingan mereka, terutama yang terancam.

8.       memungkinkan adanya kontra-opini.

 

3.       Proses Pembentukan Opini Publik

Proses terbentuknya opini publik melalui beberapa tahapan yang menurut Cutlip dan Center ada empat tahap, yaitu :

1.       Ada masalah yang perlu dipecahkan sehingga orang mencari alternatif pemecahan.

2.       Munculnya beberapa alternatif memungkinkan terjadinya diskusi untuk memilih alternatif

3.       Dalam diskusi diambil keputusan yang melahirkan kesadaran kelompok.

4.       Untuk melaksanakan keputusan, disusunlah program yang memerlukan dukungan yang lebih luas. Erikson, Lutberg dan Tedin mengemukakan adanya empat tahap terbentuknya opini publik, yaitu :

1.       Muncul isu yang dirasakan sangat relevan bagi kehidupan orang banyak

2.       Isu tersebut relatif baru hingga memunculkan kekaburan standar penilaian atau standar ganda.

3.       Ada opinion leaders (tokoh pembentuk opini) yang juga tertarik dengan isu tersebut, seperti politisi atau akademisi

4.       Mendapat perhatian pers hingga informasi dan reaksi terhadap isu tersebut diketahui khalayak.

Opini publik sudah terbentuk jika pendapat yang semula dipertentangkan sudah tidak lagi dipersoalkan. Dalam hal ini tidak berarti bahwa opini publik merupakan hasil kesepakatan mutlak atau suara mayoritas setuju, karena kepada para anggota diskusi memang sama sekali tidak dimintakan pernyataan setuju. Opini publik terbentuk jika dalam diskusi tidak ada lagi yang menentang pendapat akhir karena sudah berhasil diyakinkan atau mungkin karena argumentasi untuk menolak sudah habis. Berdasarkan terbentuknya opini publik, kita mengenal opini publik yang murni. Opini publik murni adalah opini publik yang lahir dari reaksi masyarakat atas suatu masalah (isu). Sedangkan opini publik yang tidak murni dapat berupa :

1.       Manipulated Public Opinion, yaitu opini publik yang dimanipulasikan atau dipermainkan dengan cerdik.

2.       Planned Public Opinion, yaitu opini yang direncanakan

3.       Intended Public Opinion, yaitu opini yang dikehendaki

4.       Programmed Public Opinion, yaitu opini yang diprogramkan

5.       Desired Public Opinion, yaitu opini yang diinginkan

 

4.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Opini Publik

Opini publik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

1.       Pendidikan

Pendidikan, baik formal maupun non formal, banyak mempengaruhi dan membentuk persepsi seseorang. Orangberpendidikan cukup, memiliki sikap yang lebih mandiri ketimbang kelompok yang kurang berpendidikan. Yang terakhir cenderung mengikut.

2.       Kondisi Sosial

Masyarakat yang terdiri dari kelompok tertutup akan memiliki pendapat yang lebih sempit daripada kelompokmasyarakat terbuka. Dalam masyarakat tertutup, komunikasi dengan luar sulit dilakukan.

3.       Kondisi Ekonomi

Masyarakat yang kebutuhan minimumnya terpenuhi dan masalah survive bukan lagi merupakan bahaya yangmengancam, adalah masyarakat yang tenang dan demokratis.

4.       Ideologi

Ideologi adalah hasil kristalisasi nilai yang ada dalam masyarakat. Ia juga merupakan pemikiran khas suatukelompok. Karena titik tolaknya adalah kepentingan ego, maka ideologi cenderung mengarah pada egoisme ataukelompokisme.

5.       Organisasi

Dalam organisasi orang berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai ragam kepentingan. Dalam organisasi orang dapat menyalurkan pendapat dan keinginannya. Karena dalam kelompok ini orang cenderung bersedia menyamakan pendapatnya, maka pendapat umum mudah terbentuk.

6.       Media Massa

Persepsi masyarakat dapat dibentuk oleh media massa. Media massa dapat membentuk pendapat umum dengan cara pemberitaan yang sensasional dan berkesinambungan.

 

B.      Mengelola Opini untuk Menggerakkan Massa

Mengelola Opini untuk Menggerakkan Massa”menurut saya skill penting yang mesti dimiliki setiap orang sebagai sebuah keterampilan memimpin. Generasi muda sebagai mandataris perubahan dimasa depan mesti cakap dalam mengorganisir ide perubahan sebelum dilempar kepada masyarakat. Untuk itu mahasiswa berpotensi menjadi opinion maker dalam menyuarakan perubahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kerap kali kita terlibat dalam penggalangan dukungan untuk mencapai tujuan. Mulai dari hal yang sederhana sampai masalah yang lebih besar dan strategis. Misalnya, dengan alasan agar cepat sampai sekolah kita berusaha meyakinkan orang tua agar mau dibelikan sepeda. Mulai dari untung dan ruginya memiliki sepeda    coba kita utarakan kepada orang tua kita. Nah, segala usaha dan upaya meyakinkan kedua orang tua itu bias dikatakan gerakan mengelola opini anggota keluarga agar tujuan untuk memiliki sepeda terpenuhi. Jadi menurut saya, pengertian pengelolaan opini bukan sebatas membuat opini lalu dikirim kemedia massa. Tapi penggalangan massa demi tujuan tertentu.

Sedangkan cara dan bentuknya bisa bermacam-macam. Pengelolaan opini sebagai sebuah gerakan setidaknya ada tiga agenda yang mesti kita kerjakan terlebih dahulu. Ketiga agenda itu bisa dijadikan acuan tergantung tingkat kesulitan gerakan yang dibangun. Pertama tentukan tujuan gerakan. Sebelum melontarkan ide atau opini kepada publik secara luas terlebih dahulu tujuan gerakan harus ditetapkan secara tepat. Disini missi gerakan harus menjadi ‘panglima’ yang akan menjadi menunjuk arah. Namun pengalaman selama ini kenapa gerakan massa ‘layu’ ditengah jalan persoalannya penggerak opini terbuai dengan imbalan-imbalan pragmatis yang ditemui ditengah jalan. Akibatnya ia lupa akan tujuan gerakan. Kedua, pegang data dan fakta. Bagi seorang organizer, data adalah senjata yang paling ampuh. Dengan data dan fakta yang lengkap serta akurat kelompok target gerakan akan sulit membantahkebenaran yang kita sampaikan. Apa lagi itu bentuknya penyelewengan atau manipulasi. Ini lah yang banyak dilakukan oleh banyak aktivis dalam menjalankan programnya. Ketiga, gali masalahnya. Berbekal data yang akurat dengan sedikit analisa saja kita sudah mengetahui pangkal masalahnya, kemudian dampaknya seperti apa. Bisa menimpa siapa saja dan lain seterusnya. Kalau sudah akar masalah dan dampaknya tergali barutawarkan solusi penyelesaian dari problem sosial yang  terjadi. Analisa yang cerdas, akan menghasilkan jawaban yang cerdas pula. Ketiga agenda diatas adalah langkah minimal, jika masalah lebih luas dan komplek dibutuhkan strategi-strategi lain yang bias ditemukan dilapangan. Karena sering kali fakta dilapangan berbicara lain dengan apa yang dipikir ketika dibelakang meja. Di sinilah kemudian beberapa aktivis gerakan memulai gerakan denganterlebih dahulu memetakan lapangan lengkap dengan kekuatan yang didaerah tersebut.

Dalam mengelola opini menjadi sebuah gerakan, kita bias belajar dari kesuksesan aktivis gerakan dalam mewacanakan Aktivis Busuk (2004), pelanggaran HAM, gerakan anti korupsi dan sebagainya. Kita bisa lihat, berbagai wacana yang disampaikan itu ternyata selalu disuarakan ketika momentum datang. Selain bekerja dengan rencana, mereka juga tidak pernah melewatkan momentum dalam menyuarakan perubahan. Hasilnya mereka terlatih membaca momentum. Yang tidak kalah penting ketika mengelola opini menjadi gerakan adalah berkongsi dengan media massa. Demi misi gerakan, ‘konspirasi’ dengan media perlu dibangun.Bukankah media membutuhkan berita yang berasal dari masyarakat. Jika yang disampaikan itu benar dan menyangkut kepentingan publik luas maka tidak ada alasan bagi media untuk memberitakan apa yang ingin  kita suarakan.  Pada dasarnya semua media membutuhkan orang yang peduli dengan masyarakat. Media juga bias membedakan mana gerakan pura-pura alias bohong. Lalu untukmembangun ‘konspirasi’ dengan media, bisa dengan mengadakan jumpa pers, seminar, lokakarya, demonstrasi atau menulis opini dan artikel dimedia massa. Cara–cara ini malah sangat efektif mengundang media agar mau memberitakan gerakan yang kita bangun. Selanjutnya tokoh masyarakat juga perlu dirangkul. Karena bagaimanapun realitas masyarakat di  Indonesia masih sangat mempercayai dan bergantung kepada tokoh. Selain akan menjadi penggerak utama, mereka bisa dimanfaatkan sebagai ‘bemper’ jika gerakan mendapatkan pertentangan dari penguasa atau kelompok tertentu yang merasa terusik.

Dengan pengaruh yang dia miliki tentunya kelompok penentang akan berpikir sekian kali jika ingin mengganggu. Terkait dengan apa yang kita bicarakan hari ini, Bill Drayton, pendiri organisasi Ashoka AS dalam bukunya Mengubah Dunia, Kewirausahaan Sosial dan Kekuatan Gagasan  Baru yang ditulis oleh David Bornsten mengatakan orang cerdas adalah orang yang tidak puas memberi ikan atau puas mengajari cara memancing. Orang cerdas adalah orang yang terus berjuang tanpa mengenal lelah melakukan perubahan sistemik mengubah sistem industry perikanan demi terciptanya keadilan dan kemakmuran.

 

 

Sumber : http://rayonpmiifkipunsika.blogspot.com/2017/12/pengelolaan-opini-dan-gerakan-massa.html

Share:

ANTROPOLOGI KAMPUS

ANTROPOLOGI KAMPUS

A.      KAMPUS DAN NORMA KAMPUS

1.       Pengertian Kampus

Kampus, berasal dari bahasa Latin; campus yang berarti "lapangan luas", "tegal". Dalam pengertian modern, kampus berarti, sebuah kompleks atau daerah tertutup yang merupakan kumpulan gedung-gedung universitas atau perguruan tinggi. Bisa pula berarti sebuah cabang daripada universitas sendiri. Misalnya, Universitas Indonesia di Jakarta, yang memiliki 'kampus Salemba' dan 'kampus Depok', atau Universitas Diponegoro yang memiliki 'kampus Pleburan’ dan ’kampus Tembalang’, atau pola IAIN yang dulu mempunyai banyak cabang di daerah yang sekarang berubah menajdi STAIN, atau seperti yang sekarang dijalani UWH Semarang yang mempunyai banyak cabang di daerah.

Kampus juga terkadang menyediakan asrama untuk mahasiswa. Di Inggris dan banyak negara jajahannya seperti Amerika Serikat dan lain-lain, sebuah kampus terdiri dari universitas atau sekolah dengan asrama atau tempat kos atau pondok para mahasiswa. Di sana sebuah gedung sekolah berada di kompleks yang sama dengan gedung penginapan. Di Indonesia hal-hal seperti ini kadang-kadang ada pula, terutama di tempat akademi militer, dan sekarang mulai dilakukan pula oleh beberapa kampus besar seperti UI, Undip, dan IAIN, dengan mendirikan asrama di sekitar kampus akan membuat mahasiswa lebih banyak mengabiskan waktunya untuk studi dan mudah dikontrol oleh pihak kampus.

Kampus merupakan tempat belajar-mengajar berlangsungnya misi dan fungsi perguruan tinggi. Dalam rangka menjaga kelancaran fungsi-fungsi tersebut, Upaya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, memerlukan penyatuan waktu kegiatan beserta ketentuan-ketentuan di dalam kampus.

2.       Norma Akademik (Etika Kampus)

Norma akademik adalah ketentuan, peraturan dan tata nilai yang harus ditaati oleh seluruh mahasiswa Ubaya berkaitan dengan aktivitas akademik. Adapun tujuan norma akademik adalah agar para mahasiswa mempunyai gambaran yang jelas tentang hal-hal yang perlu dan/seharusnya dilakukan dalam menghadapi kemungkinan timbulnya permasalahan baik masalah-masalah akademik maupun masalah-masalah non akademik.

Masalah akademik adalah masalah yang berkaitan langsung dengan kegiatan kurikuler, Masalah non akademik adalah masalah yang terkait dengan kegiatan non kurikuler. Sedangkan Pelanggaran adalah perilaku atau perbuatan, ucapan, tulisan yang bertentangan dengan norma dan etika kampus. Etika kampus adalah ketentuan atau peraturan yang mengatur perilaku/atau tata krama yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa Ubaya. Etika kampus meliputi 2 hal penting yaitu ketertiban dan tata krama.

B.      TIPOLOGI MAHASISWA

Adakampus pasti ada civitas akademika, baik rektor, pembantu rektor, dekan, dosen, pegawai, dan mahasiswa. Semua civitas akademika tersebut satu sama lainnya saling terkait. Mahasiswa sebagai komponen utama (karena jumlahnya lebih banyak ketimbang yang lainnya) sangat penting duperhatikan bagi denyut nadi kampus. Mahasiswa datang dari berbagai penjuru daerah tentu mempunyai latar belakang dan karakter yang berbeda-beda.

Sebagai mahasiswa, mayoritas anggota baru PMII perlu memahami berbagai jenis tipologi mahasiswa, dan kira-kira ingin menampatkan dirinya dalam tipe seperti apa. Kita meconba melakukan klasifikasi atas tipologi mahasiswa, walau ini tidak bersifat paten karena setiap diri kita bisa membuat tipologi sesuai dengan yang kita lihat dan rasakan. Anda sendiri bisa memegang dua katagori atau tiga bahkan empat sekaligus dari tipologi yang kitra susun ini. Bahkan mungkin masih membuka munculnya jenis tipologi lainnya. Yang penting semoga Anda bisa berguna bagi diri Anda sendiri dan bagi orang lain dalam lingkungan kehidupan keluarga, organisasi dan masyarakat.

1)      Mahasiswa Pemimpin

Tipikal mahasiswa seperti ini selalu terlihat mencolok dan aktif dibandingkan mahasiswa lainnya. Hidupnya di perkuliahan sangat bervariatif –diisi dengan berbagai kegiatan, dan ia tidak hanya belajar dari kuliah semata, namun juga belajar dari lingkungan. Ia akan aktifg di organisasi, baik intra maupun ektra kampus. Biasanya –tapi tidak mengikat- tipe mahasiswa seperti ini tidak memiliki keinginan yang besar untuk lulus terlalu cepat, karena ia mencari pengalaman sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemimpin di masa depan. Cita-citanya, biasanya ingin menjadi pemimpin perusahaan, lurah, bupati, DPR, menteri, bahkan presiden.

2)      Mahasiswa Pemikir

Tipikal mahasiswa jenis ini selalu berpikir dan terus berpikir. Hobinya membaca buku, diskusi dan menulis. Terkadang orang jenis ini –karena terus belajar- tanpa menghiraukan sekitarnya, agar bisa mendapatkan jawaban atas apa yang dipikirkannya. Biasanya tipe mahasiswa seperti ini jika telah lulus ingin jadi ilmuwan, peneliti, dosen atau akademisi.

3)      Mahasiswa Study Oriented

Tipikal mahasiswa jenis ini selalu rajin masuk kuliah dan melaksanakan tugas-tugas akademik. Mahasiswa jenis ini tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di kampus. Pokoknya yang penting mendapatkan nilai bagus dan cepat lulus.

4)      Mahasiswa Hedonis

Tipe mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, tidak mau aktif di organisasi. Ia selalu menjalani kehidupan dengan hedonis, glamour, dan happy-happy. Kalau ke kampus sering memakai pakaian yang norak, memakai mobil, dan nongkorong di mall, kafe, dan tempat hiburan lainnya.

5)      Mahasiswa Agamis

Tipikal mahasiswa seperti ini kemana-mana selalu membawa al-Qur’an, berpakaian ala orang Arab, tampil (sok) islami, menjaga jarak terhadap lain jenis yang tidak muhrim.

6)      Mahasiswa K3 (Kampus, Kos dan Kampung)

Tipikal mahasiswa seperti ini kesibukanya hanya K3, yaitu kampus, kos dan kampung. Kalau tiba jam kuliah ya berangkat kuliah, kalau selesai pulang kos, atau ada waktu cukup pulang kampung.

7)      Mahasiswa Santai Semaunya Sendiri

Tipe mahasiswa seperti ini tiada banyak berpikir, selalu menjalani kehidupan apa adanya. Enjoy aja! Biasanya tipikal mahasiswa seperti ini aktif di bidang seni dan olahraga. Dia tidak terlalu memikirkan kuliah, karena yang penting dalam hidupnya adalah santai. Biasanya mahasiswa seperti ini lama sekali lulusnya, karena nilainya juga santai.

8)      Mencari Cinta

Tipikal mahasiswa seperti ini tiada terlalu memikirkan kuliah, tetapi yang dipikirkannya adalah CINTA. Yang penting baginya adalah mendapatkan pacar yang setia. Lulus kuliah cepet-cepet menikah.

9)      Mahasiswa Jomblo Unsold

Tipe mahasiswa seperti ini terkadang dianggap terlalu menyedihkan, karena tiada laku-laku (unsold). Tapi terkadang mahasiswa memilih jomblo bukan karena tidak laku, tetapi karena ia memang tidak ingin berpacaran demi meraih cita-citanya di masa depan.

10)   Mahasiswa Usil

Tipikal mahasiswa seperti ini sangat senang apabila orang lain menderita. Contohnya sebelum dosen masuk kelas, ia akan mengganti kursi dosen dengan kursi yang rusak biar dosennya patah tulang, atau sebelum dosen masuk, ia menulis kertas di pintu kelas bahwa perkuliahan di kelas hari ini dibatalkan.

11)   Mahasiswa Tak Jelas

Tipikal mahasiswa seperti ini tak bisa dikategorikan, karena terkadang ia seperti pemimpin, terkadang seniman, terkadang pemikir, terkadang santai, terkadang pecinta, terkadang usil, dll. Terkadang aktif keliatan terus, terkadang lenyap hilang entah ke mana.

12)   Mahasiswa Anak Mami

Tipikal mahasiswa seperti ini selalu pulang di akhir pekan, takut kalau mamanya marah. Ia kuliah demi menyenangkan hati maminya. Kebanyakan tipikal seperti ini tidak menikmati perkuliahannya, karena jurusan perkuliahannya itu pilihan dari sang ibunda, bukan dari kehendak hatinya. Kebanyakan tipe kuliah seperti ini putus di tengah jalan, tetapi semoga kamu tidak!

13)   Mahasiswa Apa Mahasiswi

Sudah jelas sekali bahwa tipikal mahasiswa seperti ini memiliki dua kepribadian, yang pertama wanita yang kedua pria. Orang-orang biasa menyebutnya banci, tidak punya karakter yang jelas.

14)   Mahasiswa Gadungan

Tipe ini sebenarnya bukan mahasiswa, tetapi karena ingin terlihat seperti mahasiswa, maka ia sering nongkrong-nongkrong di kampus orang. Biasanya ia punya tujuan tertentu, seperti mencari seorang cewek idaman atau mau memasang bom di kampus orang.

15)   Mahasiswa Monitor

Mahasiswa seperti ini selalu berhadapan dengan komputer, sampai-sampai mukanya sudah berevolusi seperti monitor. Matanya sudah sebesar mouse, dan rambutnya sudah tak terurus seperti kabel USB atau RJ-45. Biasanya tipikal mahasiswa seperti ini hobi chatting dan mendapatkan kebutuhannya dari internet. Tetapi mahasiswa seperti ini bagus juga, karena ia tak bakal ketinggalan zaman deh.

16)   Mahasiswa Abadi

Jelas, mahasiswa jenis ini paling betah di kampus, yang di kuliahnya di atas semester 10 tapi masih santai-santai dan belum mikir lulus.

C.    PMII DAN REKAYASA KAMPUS

Dunia perpolitikan mahasiswa yang tak pernah lepas dari wilayah kampus membuat PMII mau atau tidak mau akan terlibat dalam pusaran rebutan kekuasaan kampus. Meskipun diakui ataupun tidak, mahasiswa pada umunya cenderung bersikap apolitis dengan berbagai isu kebijakan birokrat kampus dan para pejabat mahasiswa, namun tetap saja mahasiswa berpolitik dalam arti yang lebih luas. Dikarenakan politik memiliki lingkup yang menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, tergantung sudut pandang masing-masing.

PMII sebagai organisasi ekstra kampus membina dan mendistribusikan kader-kadernya untuk aktif dalam lembaga-lembaga kampus, bahkan akan mendorong kadaer-kader terbaik memimpin lembaga-lembaga tersebut. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut, bagi PMII adalah sebagai ruang distribusi kader karena di lembaga tersebut kader PMII bisa menempa dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya agar lebih maju dan profesional.

PMII memandang lembaga intra kampus sangat strategis sebagai wahana kaderisasi. Pada umumnya, ada beberapa jenis lembaga kampus yang memiliki otoritas tertentu dalam mengayomi kampus dan mahasiswa, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Fakultas/Jurusan (HMF/J) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Lembaga-lembaga tersebut bermain dalam wilayah internal kampus dan kepengurusannya berisikan mahasiswa yang tercatat masih aktif program studinya. Secara umum ke tiga jenis lembaga ini memiliki andil penting dalam rekayasa kampus. Mau kemana dan bagaimana nantinya kampus akan dikelola, lembaga inilah yang akan mewujudkannya dalam tataran kerja nyata di lapangan.

Dengan menguasai lembaga intra kampus, PMII akan semakin meneguhkan perjuangannya dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa di segala lapisan baik akademisi, organisatoris hingga preman kampus. Perlu diingat bahwa Perguruan Tinggi merupakan salah satu sarana yang dibuat dalam meningkatkan pembangunan negara secara umum, oleh karena itu tak heran bahwa banyak perubahan besar yang diawali dari gerakan lembaga kemahasiswaan ini. Adanya lapangan bola, internet, pustaka hingga tempat parkir merupakan fasilitas yang diberikan karena adanya sebuah permintaan yang dalam hal ini diajukan oleh mahasiswa secara umum dan disampaikan kepada pihak birokrat melalui lembgaga kemahasiswaan jalur komunikasi antara mahasiswa dan birokrat kampus. Ketika birokrat kampus serta lembaga-lembaga ini tidak mampu berkoordinasi dalam mengaspirasikan harapan civitas kampus umum, maka akan timbul saling ketidakpercayaan, stagnansi hingga kemerosotan akreditasi kampus dalam tataran akademis, fasilitas dan budaya.

Demikianlah paparan seputar kehidupan perkuliahan, dimana kampus dan mahasiswa berada. Kampus bisa menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan aktualisasi dan apresiasinya sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini merupakan sisi positif yang dimiliki mahasiswa. Kesempatan seperti ini tentu tidak dimiliki mereka yang tidak sempat belajar di kampus. Sebagai bagian dari elemen mahasiswa, PMII memandang sangat vital keberadaan kampus, tidak hanya semata-mata untuk tempat pembelajaran, tetapi juga sebagai wahana untuk menempa dan mengembangkan bakat potensi yang dimiliki para anggotanya.

 

 

Sumber: https://pmiikabbekasi.blogspot.com/2016/06/materi-mapaba-antropologi-kampus.html

 

Share:

MANAJEMEN KONFLIK

MANAJEMEN KONFLIK

Definisi Konflik

§  Menurut Webster (1966) dalam Dean G. Pruitt dan Feffrey Z. Rubin, istilah “conflict” dalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan, atau perjuangan” yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Arti kata itu kemudian berkembang  menjadi “ketidaksepakatan yang tajam atau oposisi atas berbagai kepentingan”.

§  Dean G. Pruitt dan Feffrey Z. Rubin memaknai konflik sebagai persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest) atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Konflik dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat kompleksitas. Konflik merupakan sebuah duo yang dinamis.



Definisi Manajemen Konflik

§  Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik.

§  Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.

§  Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.

§  Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.

§  Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.

§  Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.

 

Transformasi Konflik

§   Fisher dkk (2001:7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.

§   Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.

§   Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.

§   Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.

§   Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.

§   Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.

§   Tahapan-tahapan diatas merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan dalam mengelola konflik. Sehingga masing-masing tahap akan melibatkan tahap sebelumnya misalnya pengelolaan konflik akan mencakup pencegahan dan penyelesaian konflik.

 

Proses Manajemen Konflik

·         Sementara Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan merupakan proses. Minnery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik perencanaan merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif, artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang representatif dan ideal.

·         Sama halnya dengan proses manajemen konflik yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik (dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik dan struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan atau pihak ketiga dalam mengelola konflik.

·         Keseluruhan proses tersebut berlangsung dalam konteks perencanaan dan melibatkan perencana sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak ketiga.

 

Teori-teori Utama Mengenai Sebab-sebab Konflik

1.     Teori hubungan masyarakat. Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran: meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.

2.     Teori kebutuhan manusia. Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi. Sasaran: mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan itu.

3.     Teori negosiasi prinsip. Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik. Sasaran: membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.

4.     Teori identitas. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. Sasaran: melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka.

5.     Teori kesalahpahaman antarbudaya. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran: menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.

6.     Teori transformasi konflik. Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial, budaya dan ekonomi.

 

Penyebab Konflik (1)

·         Konflik dapat terjadi hanya karena salah satu pihak memiliki aspirasi tinggi karena allternatif yang bersifat integrative dinilai sulit didapat. Ketika konflik semacam ini terjadi, maka ia akan semakin mendalam bila aspirasi sendiri atau aspirasi pihak lain bersifat kaku dan menetap.

·         Aspirasi dapat mengakibatkan konflik karena salah satu dari dua alasan, yaitu masing-masing pihak memiliki alasan untuk percaya bahwa mereka mampu mendapatkan sebuah objek bernilai untuk diri mereka sendiri atau mereka percaya bahwa berhak memeiliki objek tersebut. Pertimbangan pertama bersifat realistis, sedangkan pertimbangan kedua bersifat idealis.

 

Penyebab Konflik (2)
A.  Faktor Manusia

1.     Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.

2.     Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.

3.     Timbul karena ciri-ciri kepriba-dian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.

 

B.  Faktor Organisasi

1.     Persaingan dalam menggunakan sumberdaya. Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.

2.     Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi. Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut. Misalnya, unit penjualan menginginkan harga yang relatif rendah dengan tujuan untuk lebih menarik konsumen, sementara unit produksi menginginkan harga yang tinggi dengan tujuan untuk memajukan perusahaan.

3.     Interdependensi tugas. Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.

4.     Perbedaan nilai dan persepsi. Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior mendapat tugas yang ringan dan sederhana.

5.     Kekaburan yurisdiksional. Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.

6.     Masalah “status”. Konflik dapat terjadi karena suatu unit/departemen mencoba memperbaiki dan meningkatkan status, sedangkan unit/departemen yang lain menganggap sebagai sesuatu yang mengancam posisinya dalam status hirarki organisasi.

7.     Hambatan komunikasi. Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen.

 

Akibat Negatif Konflik

·         Menghambat komunikasi.

·         Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).

·         Mengganggu kerjasama atau “team work”.

·         Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.

·         Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.

·         Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.

·         Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.

Akibat Positif Konflik

1.     Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.

2.     Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.

3.     Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.

4.     Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.

5.     Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

6.     Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik. Misalnya, konflik dapat menggerakan suatu perubahan: Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka, Memberikan saluran baru untuk komunikasi, Menumbuhkan semangat baru pada staf, Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi, Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.

 

Strategi Mengatasi Konflik

Munculnya konflik tidak selalu bermakna negatif, artinya jika konflik dapat dikelola dengan baik, maka konflik dapat memberi kontribusi positif terhadap kemajuan sebuah organisasi. Beberapa startegei mengatasi konflik antara lain adalah:

1.     Contending (bertanding) yaitu mencoba menerapkan solusi yang lebih disukai salah satu pihak atau pihak lain;

2.     Yielding (mengalah) yaitu menurunkan aspirasi sendiri dan bersedia menerima kurang dari apa yang sebetulnya diinginkan;

3.     Problem Solving (pemecahan masalah) yaitu mencari alternatif yang memuaskan aspirasi kedua belah pihak;

4.     With Drawing (menarik diri) yaitu memilih meninggalkan situasi konflik baik secara fisik maupun psikologis. With drawing melibatkan pengabaian terhadap kontroversi, dan

5.     Inaction (diam) tidak melakukan apapun, dimana masing-masing pihak saling menunggu langkah berikut dari pihak lain, entah sampai kapan.

 

Konflik Sebagai Suatu Oposisi

·         Konflik, dapat dikatakan sebagai suatu oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi, yang disebabkan oleh adanya berbagai macam perkembangan dan perubahan dalam bidang manajemen serta menimbulkan perbedaan pendapat, keyakinan, dan ide.

·         Dalam pada itu, ketika individu bekerja sama satu sama lain dalam rangka mewujudkan tujuannya, maka wajar seandainya dalam waktu yang cukup lama terjadi perbedana-perbedaan pendapat di antara mereka. Ibarat piring, banyak yang pecah atau retak, hanya karena bersentuhan dengan piring lainnya.

 

Tahap-tahap Berlangsungnya Konflik

Menurut Mulyasa pada umumnya konflik berlangsung dalam lima tahap, yaitu tahap potensial, konflk terasakan, pertenangan, konflik terbuka, dan akibat konflik.

1.     Tahap potensial, yaitu munculnya perbedaan di antara individu, organisasi, dan lingkunan merupakan potensi terjadinya konflik;

2.     Konflik terasakan, yaitu kondisi ketika perbedaan yang muncul dirasakan oleh individu, dan mereka mulai memikirkannya;

3.     Pertentangan, yaitu ketika konflik berkembang menjadi perbedaan pendapat di anatara individu atau kelompok yang saling bertentangan;

4.     Konflik terbuka, yaitu tahapan ketika pertentangan berkembang menjadi permusuhan secara terbuka;

5.     Akibat konflik, yaitu tahapan ketika konflik menimbulkan dampak terhadap kehidupan dan kinerja organisasi. Jika konflik terkelola dengan baik, maka akan menimbulkan keuntungan, seperti tukar pikiran, ide dan menimbulkan kreativitas. Tetapi jika tidak dikelola dengan baik, dan melampaui batas, maka akan menimbulkan kerugian seperti saling permusuhan.

 

Latar Belakang Konflik

1.     Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.

2.     Konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi di masyarakat, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi.

3.     Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

 

Faktor-faktor Penyebab Konflik

Adapun faktor-faktor  penyebab konflik antara lain:

1.     Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan;

2.     Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda pula. seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya;

3.     Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, diantaranya menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial; dan

4.     Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

 

Tingkatan Konflik

1.     Konflik intrapersonal,  yaitu konflik internal yang terjadi dalam diri seseorang. Konflik intrapersonal akan terjadi ketika individu  harus memilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, dan bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan.

2.     Konflik interpersonal, yaitu konflik yang terjadi antar individu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan dimana hasil bersama sangat menentuan.

3.     Konflik intragrup, yaitu konflik antara angota dalam satu kelompok. Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif.  Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tangapan emosional terhadap suatu situasi tertentu.

4.     Konflik intergrup, yaitu konflik yang terjadi antar kelompok. Konflik intergrup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan, da meningkatkatnya tuntutan akan keahlian.

5.     Konflik intraorganisasi, yaitu konflik yang terjadi antar bagian dalam suatu organisasi.

6.     Konflik interorganisasi,  yang terjadi antar organisasi. Konflik inter organisasi  terjadi karena mereka memiliki saling ketergantungan satu sama lain, konflik terjadi bergantung pada tindakan suatu organisasi yang menyebabkan dampak negatif terhadap organisasi lain. Misalnya konflik yang terjadi antara lembaga pendidikan dengan salah satu organisasi masyarakat.

 

Konflik Intraorganisasi

Konflik intraorganisasi meliputi empat sub jenis :

1.      Konflik vertikal, yang terjadi antara pimpinan dan bawahan yang tidak sependapat tentang cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu. Misalnya konflik antara Rektor dengan tenaga kependidikan;

2.      Konflik horizontal, yang terjadi antar karyawan atau departemen yang memiliki hierarkhi yang sama dalam organisasi Misalnya antara tenaga kependidikan;

3.      Konflik lini-staf, yang sering terjadi karena adanya perbedaan persepsi tentang keterlibatan staf dalam proses pengambilan keputusan oleh manajer lini. Misalnya konflik antara Rektor dengan tenaga administrasi;

4.      Konflik peran, yang terjadi karena seserang memiliki lebih dari satu peran. Misalnya Rektor menjabat sebagai ketua dewan pendidikan;

 

Metode Penyelesaian Konflik

§  Dominasi atau Supresi

§  Kompromis

§  Pemecahan Problem Integrative

 

Penyelesaian Konflik: Dominasi atau Supresi

Metode-metode dominasi dan supresi biasanya memilki  dua macam persamaan, yaitu :

1.      Mereka menekan konflik, dan bahkan menyelesaikannya dengan jalan memaksakan konflik tersebut menghilang “di bawah tanah”;

2.      Mereka menimbulkan suatu situasi manang-kalah, di mana pihak yang kalah terpaksa mengalah kaena otoritas lebih tinggi, atau pihak yang lebih besar kekuasaanya, dan mereka biasanya menjadi tidak puas, dan sikap bermusuhan muncul.

 

Tindakan Supresi dan Dominasi

§  Memaksa (Forcing). Apabila orang yang berkuasa pada pokoknya menyatakan “Sudah, jangan banyak bicara, saya berkuasa di sini, dan Saudara harus melaksanakan perintah saya”, maka semua argumen habis sudah. Supresi otokratis demikian memang dapat menyebabkan timbulnya ekspresi-ekspresi konflik yang tidak langsung, tetapi destruktif seperti misalnya ketaatan dengan sikap permusuhan (Malicious  obedience) Gejala tersebut merupakan salah satu di antara banyak macam bentuk konflik, yang dapat menyebar, apabila supresi (peneanan) konflik terus-menerusa diterapkan.

§  Membujuk (Smoothing). Dalam kasus membujuk, yang merupakan sebuah cara  untuk menekan (mensupresi) konflik dengan cara yang lebih diplomatic, sang manager mencoba mengurangi luas dan pentingnya ketidaksetujuan yang ada, dan ia mencoba secara sepihak membujuk phak lain, untuk mengkuti keinginannya. Apabila sang manager memilki lebih banyak informasi dibandingkan dengan pihak lain tersebut, dan sarannya cukup masuk akal, maka metode tersebut dapat bersifat efektif. Tetapi andaikata terdapat perasaan bahwa sang menejer menguntungkan pihak tertentu, atau tidak memahami persoalan yang berlaku, maka pihak lain yang kalah akan menentangnya.

§  Menghindari (Avoidence). Apabila kelompok-kelompok yang sedang bertengkar dating pada seorang manajer untuk meminta keputusannya, tetapi ternyata bahwa sang manajer menolak untuk turut campur dalam persoalan tersebut, maka setiap pihak akan mengalami perasaan tidak puas. Memang perlu diakui bahwa sikap pura-pura bahwa tidak ada konflik, merupakan seuah bentuk tindakan menghindari. Bentuk lain adalah penolakan (refusal) untuk menghadapi konflik, dengan jalan mengulur-ulur waktu, dan berulangkali menangguhkan tindakan, “sampai diperoleh lebih banyak informasi”

§  Keinginan Mayoritas (Majority Rule). Upaya untuk menyelesaikan konflik kelompok melalui pemungutan suara, dimana suara terbanyak menang (majority vote)  dapat merupakan sebuah cara efektif, apabla para angota menganggap prosedur yang bersangkutan sebagai prosedur yang “fair” Tetapi, apabila salah satu blok yang memberi suara terus-menerus mencapai kemenangan, maka pihak yang kalah akan merasa diri lemah dan mereka akan mengalami frustrasi.

 

Penyelesaian Konflik: Kompromis

§   Melalui tindakan kompromi, para manajer mencoba menyelesaikan konflik dengan jalan menghimbau pihak yang berkonflik untuk mengorbankan sasaran-sasaran tertentu, guna mencapai sasaran-sasaran lain.

§   Keputusan-keputusan yang dicapai melalui jalan kompromi, agaknya tidak akan menyebabkan pihak-pihak yangberkonflik untuk merasa frustasi atau mengambil sikap bermusuhan.

§   Tetapi, dipandang dari sudut pandanga organisatoris, kompromis merupakan cara penyelesaian konflik yang lemah, karena biasanya tidak menyebabkan timbulnya suatu pemecahan, yang paling baik membantu organisasi yang bersangkutan mencapai tujuan-tujuannya.

§   Justru, pemecahan yang dicapai adalah bahwa ke dua belah pihak yang berkonflik dapat “hidup” dengannya.

 

Bentuk-bentuk Kompromis

§   Separasi (Separation), pihak yang berkonflik dipisahkan sampai mereka mencapai suatu pemecahan;

§   Aritrasi (Arbitration), pihak-pihak yang berkonflik tunduk terhadap keputusan pihak keiga (yang biasanya tidak lain dari pihak manejer mereka sendiri);

§   Mengambil keputusan berdasarkan factor kebetulan (Settling by chance), keputusan tergantung misalnya dari uang logam yang dilempar ke atas, mentaati peratuan-peraturan yang berlaku (resort to rules) , dimana para pihak yang bersaingan setuju untuk menyelesaikan konflik dengan berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku;

§   Menyogok (Bribing), Salah satu pihak menerima imbalan tertentu untuk mengakhiri konflik terjadi.

 

Penyelesaian Konflik: Pemecahan Problem Integrative

§   Dengan metode ini konflik antar kelompok dialihkan menjadi sebuah situasi pemecahan masalah bersama, yang dapat dipecahkan dengan bantuan teknik-teknik pemecahan masalah.

§   Pihak-pihak yag berkonflik, bersama-sama mencoba memecahkan problem yang timbul antara mereka.

§   Justu mereka tidak menekan konflik ataupun mencoba mencari suatu kompromis, tetapi mereka secara terbuka bersama-sama mencoba mencari sebuah pemecahan yang dapat diterima oleh semua pihak.

 

Tipe Penyelesaian Konflik Secara Integrative

Ada tiga macam tipe metode penyelesaian konflik secara integrative yaitu metode:

1.      Consensus (Concencus);

2.      Konfrontasi (Confrontation); dan

3.      Penggunaan tujuan-tujuan superordinat (Superordinate goals)

 

6 Tipe Pengelolaan Konflik

Manajemen harus mampu meredam persaingan yang sifatnya berlebihan (yang melahirkan konflik yang bersifat disfungsional) yang justru merusak  spirit sinergisme organisasi tanpa melupakan continous re-empowerment. Ada 6 tipe pengelolaan konflik yang dapat dipilih dalam menangani konflik yang muncul (Dawn M. Baskerville, 1993:65) yaitu :

1.      Avoiding; gaya seseorang atau organisasi yang cenderung untuk menghindari terjadinya konflik. Hal-hal yang sensitif dan potensial menimbulkan konflik sedapat mungkin dihindari sehingga tidak menimbulkan konflik terbuka.

2.      Accomodating; gaya ini mengumpulkan dan mengakomodasikan pendapat-pendapat dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat konflik, selanjutnya dicari jalan keluarnya dengan tetap mengutamakan kepentingan pihak lain atas dasar masukan-masukan yang diperoleh.

3.      Compromising; merupakan gaya menyelesaikan konflik dengan cara melakukan negosiasi terhadap pihak-pihak yang berkonflik, sehingga kemudian menghasilkan solusi (jalan tengah) atas konflik yang sama-sama memuaskan (lose-lose solution).

4.      Competing; artinya pihak-pihak yang berkonflik saling bersaing untuk memenangkan konflik, dan pada akhirnya harus ada pihak yang dikorbankan (dikalahkan) kepentingannya demi tercapainya kepentingan pihak lain yang lebih kuat atau yang lebih berkuasa (win-lose solution).

5.      Collaborating; dengan cara ini pihak-pihak yang saling bertentangan akan sama-sama memperoleh hasil yang memuaskan, karena mereka justru bekerja sama secara sinergis dalam menyelesaikan persoalan, dengan tetap menghargai kepentingan pihak lain. Singkatnya, kepentingan kedua pihak tercapai (menghasilkan win-win solution).

6.      Conglomeration (mixtured type); cara ini menggunakan kelima style bersama-sama dalam penyelesaian konflik.

 

Gaya dalam Penyelesaian Konflik

§  Perlu kita ingat bahwa dalam memilih style yang akan dipakai oleh seseorang atau organisasi di dalam pengelolaan konflik akan sangat bergantung dan dipengaruhi oleh persepsi, kepribadian/karakter (personality), motivasi, kemampuan (abilities) atau pun kelompok acuan yang dianut oleh seseorang atau organisasi.        

§  Dapat dikatakan bahwa pilihan seseorang atas gaya mengelola konflik merupakan fungsi dari kondisi khusus tertentu dan orientasi dasar seseorang atau perilakunya dalam menghadapai konflik tersebut yang juga berkaitan dengan nilai (value) seseorang tersebut.

§  Pada level subkultur (subculture), shared values dapat dipergunakan untuk memprediksi pilihan seseorang pada gaya dalam menyelesaikan konflik yang dihadapinya. Subkultur seseorang diharapkan dapat mempengaruhi perilakunya sehingga akan terbentuk perilaku yang sama dengan budayanya (M. Kamil Kozan, 2002:93-96).

 

Taktik Penyelesaian Konflik

§  Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.

§  Persuasi: Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.

§  Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.

§  Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

§  Penarikan diri: Suatu penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung satu sama lain.

§  Pemaksaan dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.

§  Intervensi (campur tangan) pihak ketiga: Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.

 

Penyelesaian Konflik dengan Pihak Ketiga

§  Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.

§  Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.

§  Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.

 

Faktor-faktor yang mempengauhi pendekatan kita pada konflik (KAPOW)

K= KNOWLEDGE (Pengetahuan)

§  Sejauh mana anda mengetahui isu pihak lain?

§  Sejauh mana pihak lain mengetahui isu anda?

§  Sejauh mana anda mengetahui masalahnya?

A= AUTHORITY (Wewenang)

§  Apakah anda punya wewenang untuk mengambil keputusan?

§  Apakah pihak lain punya wewenang untuk mengambil keputusan?

P= POWER (Kekuatan)

§  Sejauh mana anda dapat memberi pengaruh terhadap situasi?

§  Seberapa besar kekuatan yang dimiliki pihak lain atas diri anda?

O= OTHER (Relasi)

§     Seberapa tinggi pentingnya relasi bagi anda?

§     Seberapa tinggi pentingnya relasi bagi pihak lain?

W= WINNING (Kemenangan)

§  Seberapa pentingnya unsur kemenangan?

§  Apakah anda harus menang?

§  Apakah pihak lain harus menang?

§  Apakah kompromi dapat diterima?

§  Apakah kekalahan dapat diterima?

 

Meangani Konflik dengan Cara ACES

§  A= Asses the Situation (Mengenali Situasi)

§  C= Clarify the Issues (Memperjelas Permasalahan)

§  E= Evaluate Alternative Approaches (Menilai Pendekatan-pendekatan Alternatif)

§  S= Solve the Problem (Mengurai Permasalahan)

 

Petunjuk Pendekatan pada Situasi Konflik

§  Diawali melalui penilaian diri sendiri

§  Analisa isu-isu seputar konflik

§  Tinjau kembali dan sesuaikan dengan hasil eksplorasi diri sendiri.

§  Atur dan rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik

§  Memantau sudut pandang dari semua individu yang terlibat

§  Mengembangkan dan menguraikan solusi

§  Memilih solusi dan melakukan tindakan

§  Merencanakan pelaksanaannya

 

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Mengatasi Konflik

§  Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.

§  Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.

§  Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.

§  Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.

§  Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.

§  Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.

§  Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.

§  Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.

 

Oleh: Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A.

 

Sumber : https://pcpmiikabbogor.blogspot.com/2017/03/manajemen-konflik.html


Share:

Lagu Pergerakan

Popular Posts

PMII Majalengka. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts